Posted in Others, Uncategorized

Interesting Thought: Life Footprint

http://www.psychologytoday.com/blog/fulfillment-any-age/201402/calculate-your-lifes-psychological-footprint

“I’ve created the items on this quiz to serve as a guide not only to the ‘heaviness’ of your footprint, but also to stimulate you to think about the ways in which you’re contributing to the world through your relationships with others, your work, and the smaller and less obvious interactions you have. If you’ve scored close to 50, you are definitely on your way to leaving a heavy footprint. If not, by answering these questions, you can start to reframe the way you view your life’s efforts.”

i don’t feel like i leave that much positive footprints, but i think i can relate somehow. there were times like when i asked my friend to teach me how to be (good) like them and the answer i get is like “that’s funny, i learned it from you back then,”. or this other time when somebody i barely known or whom i only talked to casually and occasionally suddenly quoted me and said that they’re somehow inspired to do positive things. so i guess whatever we do, do it for no bad intentions, and idk, my best friends once told me about being kind, being a good person, good things come out from it. 🙂

no foul intentions, just thinking out loud.
cheers have a great tue people 😀
#surikeypost

View on Path

Advertisements

“Hanya sebuah angklung biasa yang terbuat dari bambu, yang memiliki dua tabung, yang berwarna coklat dengan bercak pucat di sana-sini, memiliki rangka yang terlihat ringkih namun kokoh, yang memiliki retak samar di beberapa tempat;

Hanya salah satu bentuk warisan budaya dari sejuta budaya Indonesia, hanya sebuah alat musik, hanya sebuah angklung, hanya salah satu angklung dari ribuan yang pernah dibuat;

Hanya saja ini sebuah angklung yang sangat spesial di hati saya, angklung bernada B, angklung bernada B dari deretan rak angklung KPA 3 dengan kode warna jingga , angklung bernada B dari deretan rak angklung KPA 3 dengan kode warna jingga yang memiliki coretan-coretan berbentuk bunga pada labelnya.”

20130126-150218.jpg

Objek foto yang akan saya angkat kali ini adalah sebuah angklung. Seperti yang diungkapkan sepenggal kalimat sebelumnya, angklung ini hanyalah satu dari ribuan angklung yang pernah dibuat. Saya akan membahas mengenai angklung secara umum terlebih dahulu. Menyadur dari beberapa sumber, angklung merupakan alat musik multitonal yang berkembang dalam lingkungan masyarakat berbahasa Sunda di Jawa Barat. Angklung terbuat dari bambu dan dibunyikan dengan cara digoyangkan, menghasilkan suara melalui benturan badan pipa atau tabung yang dimilikinya.

Salah satu jenis angklung yang terkemuka adalah angklung padaeng. Angklung padaeng adalah angklung yang diperkenalkan oleh Daeng Soetigna sejak sekitar tahun 1938. Terobosan pada angklung padaeng adalah digunakannya laras nada diatonik yang sesuai dengan sistem musik barat. Hal ini memungkinkan angklung untuk digunakan dalam lagu internasional serta digabungkan dengan alat musik internasional lain dalam sebuah ensembel. Sesuai dengan teori musik, angklung padaeng terdiri dari dua jenis yaitu:

Angklung melodi, angklung yang secara fisik terdiri atas dua tabung suara dengan perbedaan nada sebesar satu oktaf, yang terbagi lagi menjadi dua jenis:

Angklung melodi kecil yang terdiri dari 31 angklung
Angklung melodi besar atau bass-party yang terdiri dari angklung G, G#, A, A#, B, C, dst.

Angklung akompanimen, merupakan angklung yang digunakan sebagai pengiring untuk memainkan nada-nada harmoni dan terdiri dari 3 atau 4 tabung suara sesuai dengan akor diatonis, yang terbagi lagi menjadi dua jenis:

Angklung akompanimen mayor sekaligus akor dominan septim yang terdiri dari 12 angklung
Angklung akompanimen minor yang terdiri dari 12 angklung


Pak Daeng menggunakan angklung ciptaannya untuk melatih anak-anak pandu sehingga lagu yang dimainkan pada masa tersebut umumnya merupakan lagu wajib. Sekitar tahun 1980-an KPA SMA 3 Bandung berdiri dan mulai mengaransemen serta menggunakan angklung padaeng untuk memainkan musik modern Indonesia bahkan musik manca negara.

Melihat pembahasan singkat mengenai angklung yang disampaikan, tentunya terungkap gambaran umum mengenai pilihan objek foto ini. Angklung sendiri sudah merupakan objek foto yang menarik dan ikonik karena mengandung nilai budaya dan sejarah yang sangat berarti bagi seorang mojang asli Sunda seperti saya. Angklung sudah menjadi semacam identitas budaya yang melekat secara tidak langsung pada setiap warga Jawa Barat, bahkan dapat dikatakan pada setiap warga Indonesia. Saya adalah seseorang yang sangat mencintai seni budaya terutama musik, walaupun saya tidak pandai bermusik. Namun sejak pertama kali memainkan angklung pada usia Sekolah Dasar, saya merasa angklung adalah salah satu alat musik spesial yang dapat dimainkan siapa saja termasuk saya.

Lalu, apa yang begitu spesial mengenai angklung B Oren Bunga Bunga ini? Seperti yang dituliskan dalam beberapa paragraf sebelumnya, KPA SMAN 3 Bandung merupakan salah satu organisasi yang mengedepankan musik angklung. Dapat ditebak, saya pernah menjadi salah satu anggota KPA 3 ketika duduk di bangku SMA, dan salah satu angklung yang harus saya pegang adalah angklung B. Seperti kebanyakan organisasi angklung yang memiliki set angklung yang banyak, KPA 3 juga menggunakan warna untuk menandai setiap set angklung. Setiap kali latihan maupun penampilan, saya selalu menggunakan angklung dengan memiliki kode warna jingga ini. Salah satu alasannya tentu karena menurut saya angklung ini merupakan angklung dengan suara yang paling merdu, memiliki besar celah tabung yang pas, berat yang sesuai, pada intinya merupakan angklung yang paling nyaman untuk digunakan.

Alasan lain yang menurut saya lebih tidak masuk akal adalah karena saya merasa spesial sebagai pemain angklung B ini. Semakin lama saya berkecimpung dalam organisasi ini, pemain pemegang angklung B yang datang semakin sedikit, bahkan terkadang pemainnya hanya saya saja untuk satu lagu. Bukan berarti angklung lain dan pemain lain tidak spesial, menurut saya inti dari bermain dalam tim angklung atau ensembel musik adalah bahwa setiap orang, setiap alat musik, setiap angklung, setiap tabung, bahkan setiap retakan dalam angklung memiliki peran yang sangat krusial dan membentuk satu harmoni dalam sebuah lagu, sebuah penampilan, sebuah kesatuan. Jika satu pemain tidak hadir maka setidaknya satu nada akan hilang dan satu lagu menjadi kurang lengkap. Namun jika dibandingkan dengan 6 angklung lain yang saya pegang, angklung ini memiliki nilai lebih, seperti sebuah pena yang entah kenapa lebih kita sukai dibandingkan pena lain yang kita miliki, seperti seorang teman yang entah kenapa lebih kita percaya dibandingkan teman yang lain, seperti sebuah jalan yang entah kenapa lebih nyaman untuk kita lewati. Detail lain yang membuat angklung ini sangat spesial adalah guratan gambar bunga-bunga disertai tulisan “Punya Wita” yang terpampang jelas pada label tersebut. Entah kenapa, saat pertama kali melihatnya bahkan saya tidak tahu Wita mana yang dimaksud, tulisan dan gambar tersebut tampak sangat asing dan tidak ada kaitan emosional apapun dengan saya. Namun tetap saja, angklung ini berbeda dengan angklung lain dari segi tampilannya, angklung ini dihiasi gambar bunga dan yang lain tidak, sesederhana itu. Sejak itu saya memiliki panggilan khusus untuk angklung ini; “Angklung B Oren Bunga Bunga”.

Bercerita sedikit lebih jauh mengenai mengapa angklung ini sangat spesial, sepertinya saya harus menjelaskan juga mengapa KPA 3 sangat spesial. Memang setiap anggota komunitas pasti memuja komunitasnya masing-masing, dan secara sederhana KPA 3 hanya salah satu komunitas yang kebetulan saya sukai. Sebagai anak tunggal yang selalu haus akan kegiatan dan komunitas, bagi saya KPA 3 memperkenalkan pada selingkup sahabat dan keluarga baru, yang langgeng hingga pada detik saat saya menulis tulisan ini. Saya memang belum pernah ikut serta dalam proyek mancanegara KPA 3 yang terkenal itu, hanya pernah terlibat dalam penampilan reguler dan membantu sedikit dalam beberapa konser di sana-sini. Namun bahkan hanya dari beberapa kegiatan reguler tersebut KPA 3 memberi pengaruh dalam perkembangan pola pikir saya, bagaimana saya memandang dunia, bagaimana saya bersikap sebagai manusia. Kegiatan penampilan, seperti seluruh perasaan semua orang jika harus berdiri di atas panggung dan mempersembahkan sebentuk karya seni pada ratusan pasang mata, memberikan pembelajaran tersendiri. Banyak sekali hal positif yang saya peroleh ketika bermain angklung dan ketika mengikuti KPA 3, dan seklise apapun kalimat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa saat itu saya jatuh cinta, sangat cinta, pada angklung, pada KPA 3 dan seluruh aspek di dalamnya. Tentunya di dunia ini memang tidak ada yang sempurna dan KPA 3 naturalnya memiliki beberapa kekurangan, namun terlepas dari lebih-kurang-baik-buruknya, saya memperoleh banyak hal dari KPA 3 termasuk hal klise seperti ‘cerita, cita, dan cinta’. KPA 3 memiliki tempat khusus di hati saya, dan saya lebih senang menganggap bahwa saya juga pernah ada dalam suatu titik sejarah perjalanan KPA 3.

Kembali pada seonggok angklung B Oren Bunga Bunga, dapat dikatakan angklung ini juga merupakan benda perlambang, penghubung saya dengan KPA 3. Saya memang selalu memerlukan sebuah barang yang saya percaya dan dapat membuat saya dapat lebih betah, lebih percaya diri, lebih terikat secara emosional, dalam mengerjakan sesuatu, bagai anak kecil yang harus membawa boneka kesayangannya. Pernah pada suatu penampilan saya melakukan apa yang saya sebut ‘operasi ilegal untuk menyembuhkan angklung B Oren Bunga Bunga’ karena angklung ini rusak dan terancam tidak dapat saya gunakan dalam penampilan di luar kota. Saya tidak terlalu berpengalaman dalam hal membuat dan memperbaiki angklung, namun karena saya menjabat sebagai koordinator invetaris, memiliki sumber daya yang cukup, dan tentunya ide tentang bermain menggunakan angklung lain benar-benar di luar imajinasi saya, saya membongkar habis angklung ini dan mencoba memperbaikinya. Syukurlaha walaupun ada resiko bahwa angklung ini malah semakin rusak, saya berhasil memperbaikinya.

Angklung ini menurut saya merupakan pengingat rasa sayang saya pada seni musik, pada seni budaya khas tanah kelahiran saya, pada kehidupan putih abu saya, pada mereka yang saya sebut teman, pada SMA 3, pada Bandung, pada Indonesia. Saya hapal setiap lekuk rangka angklung ini, saya hapal bagaimana halus dan kasarnya permukaan angklung ini, saya hapal seberapa berat angklung ini, saya hapal aroma khas bambunya, saya hapal seberapa keras saya harus menggetarkan angklung ini untuk memperoleh volume yang saya kehendaki. Saya merasa bahwa saya hapal setiap celah, setiap serat, setiap ruas yang dimiliki angklung ini. Saya bahkan bisa membayangkan angklung ini ada di tangan saya sekarang. Saya mungkin sudah tidak pernah aktif lagi di KPA 3, saya mungkin sudah tidak lagi mengenal sebagian besar orang yang menjadi tonggak KPA 3 saat ini, saya mungkin sudah lupa pada lagu bagian mana saja saya harus memainkan angklung ini, saya bahkan mungkin sudah hampir lupa bagaimana caranya bermain angklung, label pada angklung ini mungkin sudah bukan lagi berhiaskan bunga, angklung ini bahkan mungkin sudah tidak ada lagi di KPA 3. Seluruh aspek dunia angklung dan KPA 3 yang saya kenal dulu mungkin sudah hilang dan terkesan asing, tetapi angklung ini, Angklung B Oren Bunga Bunga beserta segala kenangan yang saya alami bersamanya, mungkin tidak akan saya lupakan seumur hidup saya.

*ditulis untuk “My Memorabilia Project” dari “Bandung Heritage”

Angklung B Oren Bunga Bunga